BERSAMA ALLAH
PEMAHAT MAKNA: DODIK PUJI BASUKI, S.H., M.H. - Advokat Jember
“La hawla wala quwwata illa billahil ‘aliyyil ‘adzim.”
Di bawah langit Jember yang tenang, di antara deru angin sore yang menyapu dedaunan hijau dan riuh rendahnya denyut kehidupan kota yang tak pernah lelah, ada sebuah lorong sunyi yang hanya bisa diakses oleh hati yang tahu cara berbisik kepada Tuhannya. Di sanalah seorang hamba, yang di dunia dikenal sebagai pembela keadilan, duduk bersimpuh dalam keheningan batin yang paling dalam.
Hidup, bagi seorang penempuh jalan kebenaran, bukanlah bentangan permadani yang senantiasa lembut. Ia adalah samudra luas tempat gelombang ujian, sengketa, air mata manusia yang tertindas, dan rumitnya persoalan dunia datang bergulung-gulung. Di ruang-ruang sidang, di balik tumpukan berkas perkara, di meja mediasi desa, hingga di dalam debar penantian sebuah keputusan, akal manusia sering kali berteriak meminta henti. Namun, di situlah kalimat "Bersama Allah" hadir bagaikan embun sejuk yang menyiram dahaga jiwa.
Menyelami tasawuf di tengah kerasnya rimba hukum modern menuntut kelembutan rasa yang luar biasa. Seorang sufi modern tidak melarikan diri dari keramaian dunia; ia justru masuk ke dalam hiruk-pikuknya kezaliman, memeluknya dengan cinta kasih (mahabah), lalu menyucikannya dengan zikir yang tak bertepi. Ketika pena diayunkan untuk menuliskan gugatan, ketika lidah bergetar membela hak-hak kaum yang terpinggirkan, seorang pengacara sejati tahu bahwa ia bukanlah penentu mutlak. Ia hanyalah pahat di tangan Sang Maha Pemahat.
Sebagai pemahat makna memandang profesi advokat bukan sekadar pertarungan logika dan pasal-pasal dingin, melainkan sebuah bentuk ibadah yang tersembunyi—sebuah jalan sunyi untuk menegakkan Al-Adl (keadilan Ilahi) di muka bumi. Ego keakuan (ana) harus dilebur, dikikis habis melalui Tazkiyatun Nafs, agar yang tampak di hadapan sesama bukanlah kesombongan intelektual, melainkan pantulan nur Illahi yang menenangkan.
Ketika fajar menyingsing di tanah Jember, dan langkah kaki mulai diayunkan menembus hari, kesadaran itu kian berakar: tiada satu pun langkah yang sunyi dari pengawasan-Nya. Menang di dunia tidak membuatnya jumawa, karena ia tahu kemenangan sejati adalah keridhaan-Nya. Kalah pun takkan meruntuhkan asa, sebab ia tahu setiap air mata dan lelah ikhtiar telah tercatat indah di Lauh Mahfuzh.
"Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, maka Allah akan mencukupkan (keperluan)nya." (QS. At-Talaq: 3)
Maka, biarlah jemari ini terus memahat makna, merajut asa, dan membela yang
lemah dengan ketajaman nalar yang dibingkai kelembutan sufi. Sebab bersama Allah, setiap beban berubah menjadi ringan, setiap jalan buntu terbuka menjadi rahmat, dan setiap helaan napas adalah dzikir cinta yang abadi kepada Sang Pemilik Semesta.


