Jember, WartaUpdate - Senja berlahan merayap di atas hamparan persawahan Desa Wonojati, Kecamatan Jenggawah, Kabupaten Jember. Dari celah-celah rumah penduduk, aroma petrikor selepas hujan berpadu dengan kehangatan sapaan warga yang baru pulang dari ladang. Di sebuah beranda sederhana yang menghadap langsung ke arah hijau daun padi, Siti Habiba, S.Pd., duduk tenang dalam balutan busana muslimah serba putih. Di hadapannya, secangkir teh mengepulkan uap tipis, menemani malam yang kian syahdu oleh suara jangkrik dan derik alam pedesaan.
Perempuan yang akrab disapa Ning Habiba ini bukanlah sosok asing di tengah denyut kehidupan warga Wonojati. Lahir dan ditempa dari tradisi keilmuan serta kesalehan pesantren—berakar kuat dari Pondok Pesantren An-Nuriyah dan Darus Sholah—ia tumbuh dengan memegang teguh prinsip pengabdian kepada sesama. Bagi Habiba, pencalonannya sebagai Kepala Desa Wonojati bukanlah sekadar perebutan panggung politik praktis, melainkan sebuah panggilan batin yang murni: "pulang kampung" secara hakiki untuk merawat rumah besar bernama desa dengan ketulusan nurani.
Jejak langkahnya di tengah masyarakat berbicara lebih lantang daripada sekadar janji kampanye di atas kertas. Ia adalah figur aktivis perempuan dan penggerak pendidikan yang memilih turun langsung ke lapangan tanpa sekat. Warga kerap melihatnya membaur bersama para pemuda yang tengah memancing di saluran irigasi desa, mendengar keluh kesah para petani, hingga memastikan bahwa pelayanan publik dan kehadiran negara dirasakan langsung tanpa ada diskriminasi atau "pilih kasih". Narasi perjuangannya selalu berakar pada filosofi kultural yang membumi: “Satu Niat, Satu Hati, Membangun Desa yang Lebih Baik.”
Di tengah masyarakat agraris yang sarat dengan nilai tradisional, kehadiran figur perempuan di panggung kepemimpinan tertinggi desa sempat memantik ruang tanya. Namun, Habiba menjawab keraguan itu bukan dengan retorika tinggi, melainkan melalui ketelatenan, kebersihan hati, dan etos kerja yang nyata. Tagline yang kini bergemuruh di setiap sudut desa—"Wayae Perempuan Tampil Memimpin"—bukanlah slogan kosong untuk menepikan pihak lain, melainkan sebuah seruan kultural bahwa ketelatenan seorang ibu, ketegasan moral, dan kelembutan pendekatan sosial adalah energi segar yang sangat dibutuhkan Wonojati hari ini.
Visi besar yang ia usung terpatri jelas: mewujudkan Desa Wonojati yang lebih baik, religius, transparan, dan berorientasi penuh pada pelayanan masyarakat. Visi tersebut diterjemahkan ke dalam misi konkret yang menyentuh hajat hidup orang banyak:
Mempercepat kualitas pelayanan publik yang ramah, cepat, dan transparan bagi seluruh lapisan warga tanpa terkecuali.
Membersihkan birokrasi desa dari praktik korupsi dan nepotisme, demi pengelolaan anggaran yang jujur dan berpihak sepenuhnya pada kepentingan umum.
Merawat keharmonisan sosial dengan mendukung penuh kegiatan keagamaan dan tradisi gotong royong warga.
Membuka ruang seluas-luasnya bagi generasi muda untuk berkembang melalui sentuhan pendidikan, kreativitas, dan pemberdayaan ekonomi lokal.
Pendekatan dialogis yang ia kedepankan dalam setiap lawatan politiknya mencerminkan kedewasaan berdemokrasi. Bagi Habiba, dinamika pemilihan kepala desa tidak boleh merusak silaturahim antarwarga yang telah terjalin puluhan tahun. Politik desa, menurutnya, adalah sarana ibadah sosial untuk menghadirkan kemaslahatan bersama. Ia sering mengingatkan para pendukungnya agar senantiasa mengedepankan etika santun, menghindari kampanye hitam, dan merangkul semua elemen masyarakat tanpa memandang perbedaan pilihan politik sebelumnya.
Transformasi Desa Wonojati menuntut pemimpin yang tidak hanya paham administrasi, tetapi juga memiliki kepekaan batin terhadap persoalan rakyatnya. Berbekal pengalamannya di dunia pendidikan dan sosial, Habiba ingin menjadikan balai desa sebagai rumah kedua bagi masyarakat—tempat di mana setiap keluhan didengar dengan empati dan setiap persoalan diselesaikan dengan transparansi. Tidak ada lagi jarak antara pemimpin dan rakyat yang dipimpinnya.
Malam itu, di bawah temaram lampu desa, Habiba menutup perbincangan kami dengan sebuah senyuman tenang. Ia percaya bahwa fajar baru di Wonojati sedang menanti untuk dijemput bersama-sama. Di tangan seorang pendidik yang lahir dari rahim pesantren ini, Desa Wonojati kini melangkah mantap menuju sebuah babak baru—sebuah tatanan di mana kepemimpinan desa dijalankan bukan dengan kekuasaan semata, melainkan dengan cinta kasih dan ketulusan untuk melayani sesama dengan sepenuh hati. ( Aries 🆎 )


