masukkan script iklan disini
Menata Hati di Ambang Perpisahan: Belajar 'Rahasia' Suami dari Mbah Moen
Oleh: DODIK PUJI BASUKI, SH.MH
(Advokat dan Pemerhati Hukum Jember)
Jember, WartaUpdate -Di meja kerja saya sebagai seorang Advokat, berkas-berkas perceraian sering kali bercerita tentang kelelahan. Banyak istri datang dengan napas terengah, ingin segera memutuskan ikatan yang dianggap beban. Ada semacam ketergesaan untuk bebas, seolah-olah perceraian adalah pintu keluar tunggal menuju kebahagiaan. Namun, sebelum palu hakim mengetuk takdir, mari kita sejenak menepi dari hiruk-pikuk pasal dan menenggelamkan diri dalam samudra kearifan para penjaga jiwa.
1. Mbah Moen: Meluruskan Fungsi yang Tertukar
Almarhum KH. Maimun Zubair (Mbah Moen) pernah memberikan analogi yang sangat membumi namun menggetarkan: “Ibarat memiliki kulkas tetapi dipakai sebagai lemari pakaian, tentu tidak akan pernah puas.” Banyak istri yang merasa tidak kuat karena mereka menuntut suami hanya pada fungsi sekundernya—sebagai mesin nafkah atau simbol status.
Padahal, Mbah Moen mengingatkan bahwa fungsi primer seorang suami adalah "Tameng dari Api Neraka". Di mata beliau, rida suami adalah jembatan bagi ampunan Tuhan. Saat seorang suami mungkin sedang "diam", tidak produktif, atau sulit, ia sebenarnya sedang menjadi ladang ujian. Jika ladang itu dipanen dengan keikhlasan, hasilnya bukanlah tumpukan materi, melainkan surga.
2. Kritik Terhadap 'Keadilan Kertas': Hakim Bukan sekadar Corong Undang-Undang
Di sinilah kegelisahan saya sebagai praktisi hukum muncul. Saya sering melihat Hakim terjebak pada aspek formil yang dingin—asal ada dua saksi dan bukti pertengkaran, maka cerai dikabulkan. Ini adalah praktik hukum yang kehilangan ruhnya.
Hakim seharusnya bertindak sebagai Mujtahid, bukan sekadar mesin ketik undang-undang. Sebagaimana ditegaskan dalam nilai-nilai hukum agama di Mahkamah Agung, seorang Hakim memikul beban moral untuk mencari keadilan substantif. Hakim harus mampu melihat: apakah ini benar-benar kehancuran rumah tangga, ataukah hanya kemarahan sesaat yang butuh sentuhan Ishlah (perdamaian)? Hukum tanpa spiritualitas adalah buta, dan putusan yang hanya mengejar administrasi tanpa upaya menyatukan kembali adalah putusan yang kehilangan keberkahan.
3. Mengapa Tergesa-gesa? Ilusi di Balik Gugatan
Fenomena "instan-cerai" saat ini sering kali dipicu oleh ego yang mendewakan kebahagiaan diri sendiri. Kita hidup di era di mana sabar dianggap kekalahan dan bertahan dianggap kebodohan. Gus Baha sering mengingatkan bahwa "Logika Tuhan" seringkali berbeda dengan logika manusia. Apa yang kita benci, bisa jadi adalah jalan turunnya rahmat.
Jalaluddin Rumi berbisik lembut, "Jangan berpaling. Tetaplah menatap pada tempat yang terluka, karena itulah jalan cahaya memasuki dirimu." Ketergesaan untuk cerai sering kali adalah upaya lari dari "madrasah jiwa" yang sedang Tuhan skenariokan. Jika Siti Asiyah bisa tetap bercahaya di samping Fir’aun yang zalim, lantas ujian kecil apa yang membuat kita merasa begitu berhak memutus janji suci Mitsaqon Ghalidza?
4. Pilar-Pilar yang Berdiri Sendiri
Pujangga Kahlil Gibran mengingatkan bahwa suami istri adalah dua pilar yang menyangga satu atap yang sama. Mereka harus berdiri tegak, namun jangan terlalu merapat hingga saling menenggelamkan. Suami yang sulit mungkin adalah cara semesta agar sang istri tumbuh menjadi pribadi yang lebih tangguh dan mandiri secara spiritual, bukan untuk menyerah dan lari dari kenyataan.
Kesimpulan Reflektif
Sebagai Advokat dan Pemerhati Hukum, saya menyadari bahwa hukum negara memberikan hak untuk berpisah. Namun, hukum tidak pernah bisa menjamin ketenangan batin pasca-perceraian.
Pesan Mbah Moen adalah pengingat yang sangat "langit" bagi kita yang masih berpijak di bumi: Suami Anda adalah kunci surga Anda. Mungkin kuncinya terlihat usang, karatan, atau tidak menarik lagi di mata dunia, tetapi ia tetaplah kunci yang sama untuk membuka pintu ampunan-Nya.
Sebelum Anda melangkah ke meja hijau, tanyakanlah pada lubuk hati yang paling dalam: Apakah saya sedang membuang beban dunia. ( 🆎 )


