masukkan script iklan disini
Tarian Jiwa di Majelis Keadilan
Oleh : DODIK PUJI BASUKI, SH.,MH - ADVOKAT JEMBER
Duhai pencari kebenaran...
Janganlah engkau terpesona pada megahnya istana raga,
karena ia hanyalah debu yang dipinjamkan waktu.
Imam Al-Ghazali telah berbisik dari masa lalu:
"Sungguh sebuah tragedi, memoles sangkar emas saat burung di dalamnya mati kelaparan."
Kita sering sibuk menyulam jubah kehormatan,
mengejar pengakuan di antara hiruk-pikuk meja hijau dan gedung-gedung tinggi.
Namun, adilkah kita jika hanya memoles cermin,
sementara wajah di baliknya penuh noda iri dan sombong?
Ingatlah pesan sang Begawan Hukum, Bismar Siregar,
bahwa hukum tanpa hati nurani hanyalah jaring laba-laba.
Beliau tidak menghamba pada bunyi undang-undang yang bisu,
melainkan pada detak jantung keadilan yang takut akan Tuhan.
Baginya, memutus perkara adalah ibadah,
dan ketukan palunya adalah gema dari kejujuran jiwa.
Seperti Rumi yang menari dalam cinta:
Jangan jadikan hukum sebagai penjara bagi semangatmu,
tapi jadikan ia sayap untuk terbang menuju Sang Kebenaran.
Hukum bukanlah tentang siapa yang menang atau siapa yang kalah,
tapi tentang bagaimana kau menjaga lilin nurani agar tidak padam ditiup angin keserakahan.
"Aku bukanlah tubuh yang memiliki jiwa, aku adalah jiwa yang sedang menziarahi tubuh."
Maka, luangkanlah waktu untuk diam.
Di balik secangkir kopi yang mengepulkan asap doa,
biarkan jiwamu meminum cahaya-Nya.
Rawatlah fisikmu agar kuat mengabdi,
namun muliakanlah jiwamu agar ia tetap suci saat kembali.
Sebab di hadapan Sang Maha Adil nanti,
bukan tumpukan berkas yang akan berbicara,
melainkan ketulusan yang pernah kau tanam di ladang kemanusiaan.


