• Jelajahi

    Copyright © WARTA UPDATE
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    ​Lebaran: Mencari Rembulan di Langit Nurani

    Warta Lintas Media
    Kamis, 19 Maret 2026, Maret 19, 2026 WIB Last Updated 2026-03-20T05:52:39Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini


     ​Lebaran: Mencari Rembulan di Langit Nurani

    ​Oleh: DODIK PUJI BASUKI, SH.,MH - ADVOKAT JEMBER

    ​Pagi ini, ketika fajar menyingsing di ufuk timur, langit Indonesia seolah terbagi dalam dua rona kerinduan. Di satu sudut, gema takbir telah memecah sunyi, menandai kepulangan hamba ke rumah fitrahnya. Di sudut lain, nafas panjang puasa masih diembuskan dengan khusyuk, menunggu satu putaran waktu lagi untuk menyempurnakan pengabdian. Di tengah riuh rendah perbedaan penanggalan dan maklumat otoritas, kita seringkali lupa: bahwa rembulan yang kita cari adalah rembulan yang sama, dan Tuhan yang kita sembah tak pernah tidur menghitung detak jantung hamba-Nya.

    ​Cermin yang Pecah dan Gajah dalam Kegelapan

    ​Jalaluddin Rumi pernah berkisah tentang gajah di sebuah ruang yang pekat. Masing-masing orang meraba bagian yang berbeda: ada yang menyentuh belalainya dan menyebutnya pipa, ada yang memegang telinganya dan menyebutnya kipas. Begitulah kita memandang tanda-tanda alam. Kebenaran hakiki adalah cermin di tangan Tuhan yang jatuh dan pecah berkeping-keping. Setiap kelompok memungut satu kepingan, melihat pantulannya, dan berpikir mereka telah memiliki seluruh wajah kebenaran. Jika kita memaksakan satu kepingan cermin untuk meniadakan kepingan lainnya, maka kepingan itu justru akan melukai tangan kita sendiri—memutuskan tali silaturahmi yang seharusnya menjadi ruh dari kemenangan itu sendiri.

    ​Hukum Nurani dan Cahaya Kalbu

    ​Dalam jejak langkah sang pendekar hukum, Bismar Siregar, kita diingatkan bahwa hukum tanpa nurani hanyalah jaring yang kering. Bagi beliau, keadilan tidak selalu ditemukan dalam tumpukan berkas administrasi atau ketetapan formal, melainkan dalam ketulusan untuk tidak melukai sesama. Menetapkan satu hari raya memang sebuah kebutuhan organisasi negara demi kepastian publik, namun memaksakan kepatuhan dengan label "larangan" tanpa ruang dialog adalah bentuk kekakuan yang menjauhkan hukum dari kemanusiaan. Hukum yang progresif harusnya seperti air; ia mengisi ruang-ruang kosong perbedaan dengan kesejukan, bukan dengan sekat yang memisahkan rasa persaudaraan.
    ​Senada dengan itu, Imam Al-Ghazali mengajarkan kita tentang tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Beliau memandang bahwa segala ritual, termasuk penentuan hari raya, hanyalah kulit pelindung bagi buah yang bernama ketakwaan. Jika kita terlalu sibuk memperebutkan kulitnya hingga mencaci mereka yang memiliki warna kulit berbeda, maka kita telah kehilangan manisnya buah keikhlasan. Di hadapan Sang Khalik, bukan angka di kalender yang diperiksa, melainkan seberapa jernih cahaya di dalam kalbu kita saat bersujud. Hari raya yang sejati adalah saat seorang hamba berhasil memadamkan api amarah dan kesombongan intelektualnya, lalu menggantinya dengan cahaya cinta yang tak terbatas.

    ​Nyanyian Sayap-Sayap Patah

    ​Kahlil Gibran, sang pemahat kata, pernah membisikkan bahwa "Persahabatan adalah kebutuhan jiwa yang terpenuhi." Jika kita biarkan perbedaan satu hari menghancurkan persahabatan, maka kita sedang mematahkan sayap-sayap jiwa kita sendiri. Gibran memandang Tuhan bukan dalam hitungan angka penanggalan yang kaku, melainkan dalam senyum anak-anak dan kedamaian di antara sesama. Hari raya, dalam pandangan yang halus, adalah sebuah simfoni; dan dalam sebuah simfoni, keindahan lahir bukan karena semua nada itu sama, melainkan karena nada-nada yang berbeda itu berpadu dalam harmoni yang agung.

    ​Menuju Padang Rumput yang Luas

    ​Mari kita kembali pada bisikan Rumi: “Di luar sana, melampaui gagasan tentang benar dan salah, ada sebuah padang rumput yang luas. Aku akan menemuimu di sana.” Padang rumput itu adalah hati yang lapang—sebuah kedaulatan batin yang tak terjamah oleh pasal-pasal administratif. Tempat di mana aturan dihormati sebagai pengatur langkah lahiriah, namun perbedaan dihargai sebagai tarian batiniah.
    ​Lebaran yang sejati tidak ditemukan dalam perdebatan di ruang-ruang sidang atau siaran televisi, melainkan dalam pelukan hangat yang tak lagi menanyakan, "Kapan engkau mulai bersujud?" Sebab pada akhirnya, kita semua sedang menatap rembulan
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini