• Jelajahi

    Copyright © WARTA UPDATE
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    Menemukan Ridha di Tengah Badai Dunia

    Warta Lintas Media
    Sabtu, 07 Maret 2026, Maret 07, 2026 WIB Last Updated 2026-03-07T12:43:45Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini


     Menemukan Ridha di Tengah Badai Dunia

    Oleh : DODIK PUJI BASUKI, SH.,MH - ADVOKAT JEMBER

    ​Di bawah riuh rendah algoritma dan kepungan layar gawai, manusia modern sedang mengalami apa yang disebut sebagai "kekeringan ontologis". Kita hidup di era di mana keberhasilan diukur dari statistik—jumlah pengikut, saldo rekening, hingga kecepatan pencapaian. Namun, di balik gemerlap itu, ada jiwa-jiwa yang letih, yang merasa bahwa semakin keras mereka mengejar dunia, semakin jauh mereka dari kedamaian.

    ​Pesan-pesan dari Ali bin Abi Thalib,

     Jalaluddin Rumi, hingga kearifan lokal Simbah, sejatinya adalah sebuah interupsi teologis terhadap cara kita hidup hari ini.
    ​Antara Ambisi dan Penyerahan (Tawakal yang Aktif)

    ​Hari ini, kita sering terjebak dalam mitos "kemahakuasaan diri". Ideologi sukses instan memaksa kita untuk menjadi tuan atas nasib sendiri. Namun, teologi Islam melalui lisan Sayyidina Ali mengingatkan kita pada sebuah garis batas yang absolut: Ketetapan Tuhan.

    ​Secara faktual, depresi dan kecemasan massal saat ini berakar dari ketidakmampuan manusia menerima bahwa ada variabel di luar kendali mereka. Ketika Ali bin Abi Thalib berkata, "Apa yang menjadi takdirmu akan mencari jalan untuk menemukannya," ia tidak sedang mengajak kita menjadi malas. Ia sedang mengajarkan Seni Melepaskan. Ridha Allah tidak terletak pada hasil yang kita genggam, melainkan pada ketenangan hati saat proses dilakukan secara maksimal namun hasil diserahkan sepenuhnya kepada Sang Penentu. Hidup yang "sebenarnya" adalah ketika ikhtiar kita sekeras baja (seperti disiplin yang diminta Warren Buffet), namun hati kita selembut kapas dalam menerima ketentuan-Nya.

    ​Noto Ati: Melawan Kedangkalan Zaman

    ​Dalam narasi Pitutur Jawa, ada tuntunan untuk Noto Ati, Noto Ilat, Noto Polah. Di era media sosial, Noto Ilat (menata ucapan) menjadi relevan secara brutal. Jempol manusia hari ini lebih cepat daripada akalnya, dan kebencian diproduksi seolah tanpa biaya. Secara teologis, ridha Allah mustahil turun pada lisan yang tajam menyakiti dan hati yang penuh dengki.

    ​Memahami kehidupan yang sebenarnya berarti memahami bahwa setiap gerak-gerik kita adalah ibadah. Jika Noto Ati (menata hati) sudah gagal, maka pencapaian setinggi langit pun hanya akan menjadi istidraj—kenikmatan yang justru menjauhkan kita dari Tuhan. Ridha Allah adalah "jangkar" yang membuat kita tidak limbung saat dipuji dan tidak hancur saat dimaki.

    ​Filosofi Cinta Rumi dan Bakti yang Hilang

    ​Dunia saat ini menjadi tempat yang dingin karena kita sering lupa "menanam cinta" seperti pesan Rumi. Kita sering melihat sesama sebagai saingan, bukan sebagai manifestasi keagungan Tuhan. Peringatan tentang bakti kepada orang tua dan shalat malam bukan sekadar ritual mekanis. Itu adalah cara "mengetuk pintu langit".
    ​Secara faktual, banyak orang mengejar "surga" melalui kesuksesan finansial, namun melupakan "surga" yang ada di bawah kaki ibu mereka. Hidup yang sebenarnya adalah keseimbangan antara vertikal (Tuhan) dan horizontal (manusia). Tanpa bakti dan tanpa cinta, hidup hanyalah deretan angka yang hampa.

    ​Epilog: Menjemput Ridha-Nya

    ​Mencari ridha Allah di tengah hiruk-pikuk saat ini berarti berani menjadi "berbeda". Berani untuk tetap jujur di tengah kecurangan, berani untuk tenang di tengah kepanikan massal, dan berani untuk merasa cukup di tengah ketamakan.
    ​Hidup yang sebenarnya bukanlah tentang seberapa banyak kita mengumpulkan, tapi seberapa bersih hati kita saat menghadap-Nya nanti. Seperti tarikan napas yang singkat menurut Rumi, dunia ini hanyalah perhentian sejenak untuk memungut bekal. Jangan sampai kita terlalu sibuk menata "rumah" di dunia, namun lupa menata "diri" untuk pulang.
    ​Sebab pada akhirnya, hanya ada satu pertanyaan yang tersisa: Apakah Tuhan tersenyum melihat cara kita menjalani hidup ini?
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini