Kidung Qurban di Pelataran Jagat yang Sedang Diprihatinkan
Sebait Doa Sehalus Kapas dalam Badai Ketamakan
Pemahat Makna : DODIK PUJI BASUKI, SH.,MH - ADVOKAT JEMBER
Dengarkanlah sejenak, di sela-sela dentang waktu yang kian memburu. Langit malam Idul Adha ini seperti membentangkan beludru hitam yang paling sunyi, menyimpan rahasia tentang ketaatan yang mutlak, sekaligus ratapan tentang sebuah negeri yang sedang kehilangan kompas moralnya. Ada sebuah alunan yang seharusnya lembut bagai kapas di hati, namun kini berhadapan dengan badai keprihatinan yang diungkapkan oleh para saksi zaman.
Di satu sisi, kita menyaksikan kidung kurban yang syahdu. Pucuk-pucuk ilalang merunduk diterpa embun malam, seolah ikut bersujud menyaksikan kepasrahan Nabi Ibrahim Alaihissalam. Dan ketika pisau kesadaran diasah, kita diingatkan: kurban bukanlah semata tentang seberapa banyak darah hewan yang tumpah ke bumi, melainkan tentang seberapa dalam kita mampu menyembelih ego, nafsu ammarah, dan berhala kepemilikan yang selama ini kita genggam dengan angkuh.
Ketika Kidung Suci Bertemu Ratapan Peneliti
Namun, ketika kidung suci itu kita bawa pulang ke relung kehidupan nyata, ia berbenturan dengan kenyataan yang menyesakkan dada. Seorang peneliti senior—sebut saja Siti Zuhro, seorang penjaga gawang etika publik—telah mengangkat suara dengan keprihatinan yang mendalam. Ia menyebut korupsi di negeri ini bukan lagi sekadar noda, melainkan telah menjadi "bencana sangat luar biasa."
Di sinilah letak tragedi itu bermuara: sebuah momentum kurban yang suci berhadap-hadapan dengan sebuah sistem di mana, menurut peneliti ini, "banyak orang kini menjadikan jabatan sebagai jalan untuk memperkaya diri, bukan untuk mengabdi dan berdedikasi." Ada pertentangan yang tajam antara kesediaan untuk memberi demi Allah dan sesama, dengan keserakahan untuk mengambil demi diri sendiri dan kelompoknya.
Sufisme Modern tidak mengajak kita menyepi di puncak gunung untuk menghindari kegaduhan ini. Ia mengajak kita membawa kedamaian gunung itu ke tengah-tengah pasar, ke ruang-ruang sidang, dan ke dalam setiap transaksi kehidupan. Seorang Sufi modern melihat kurban sebagai sebuah dekonstruksi radikal terhadap berhala modern.
Menyembelih Berhala Ketamakan: Kurban sebagai Terapi Eksistensial
Jika kurban adalah penyembelihan 'keakuan' kita di hadapan Allah, maka korupsi adalah keangkuhan 'keakuan' yang merasa memiliki mutlak atas amanah. Jabatan, dalam kacamata spiritual, adalah amanah yang sangat rapuh. Namun, di era ini, amanah itu sering kali disalahartikan sebagai 'hak milik' yang bisa dieksploitasi tanpa batas.
Kita menyembelih seekor kambing atau sapi, tetapi berhala-berhala modern di dalam dada kita—berhala status sosial, algoritma validasi publik, dan ketamakan ekonomi—masih berdiri kokoh. Kita pameran daging di media sosial, di hari di mana si miskin dan si kaya seharusnya merasakan energi kehidupan yang sama. Di situlah esensi 'silih asih, silih asah, dan silih asuh' menjadi sekadar teks-teks kaku yang kehilangan nyawanya.
Secara psikologis, manusia modern menderita kecemasan (anxiety) karena takut kehilangan apa yang mereka genggam. Qurban mengajarkan terapi radikal: lepaskan genggamanmu, maka kamu tidak akan lagi dikuasai oleh rasa takut kehilangan. Dengan melepaskan sesuatu yang kita cintai demi entitas yang lebih tinggi, kita sedang meruntuhkan ilusi bahwa kita adalah pemilik mutlak atas semesta ini.
Menjadi Telaga di Tengah Padang Gersang
Alam semesta bekerja tanpa pernah menghakimi. Hujan turun di atas sawah petani kaya maupun gubuk rapuh. Matahari berbagi hangat kepada mereka yang terjaga dalam doa maupun yang tersesat dalam kelalaian. Ini adalah hukum keadilan universal yang paling murni.
Manusia yang telah berhasil "menyembelih" keangkuhannya akan bertransformasi menjadi seperti telaga yang tenang. Siapa pun yang datang mendekat—apakah mereka yang mencari keadilan di tengah rasi-rasi korupsi yang merata, mereka yang lelah dikoyak konflik, atau jiwa-jiwa yang kebingungan—akan menemukan kesejukan saat memandangnya. Kata-katanya tidak lagi bertujuan memegahkan diri, melainkan menjadi penawar. Keputusannya tidak didasari dendam, melainkan oleh kejernihan rasa yang bersumber dari kedekatan pada Sang Maha Benar (Al-Haqq).
Kita adalah arsitek ikhtiar, tetapi Allah adalah pemilik hasil. Nelayan di tengah lautan luas pada malam hari merawat jalanya dengan baik, namun ia menyerahkan sepenuhnya apa yang tertangkap di bawah kedalaman air kepada kemurahan samudera. Ia tidak mendikte laut; ia menyelaraskan diri dengan ombak.
Fajar Baru bagi Jiwa yang Pasrah: Kidung di Tengah Badai
Mari kita bawa ketenangan mengalir ini ke dalam setiap tarikan napas kita esok hari. Saat kita kembali mengenakan pakaian profesi, menghadapi tumpukan berkas kehidupan, atau menyelesaikan silang sengketa di dunia nyata, ingatlah: di dalam dada kita ada sebuah ruang sunyi yang tak boleh diusik oleh badai ketamakan apa pun.
Mari kita hirup napas malam Idul Adha ini dalam-dalam... rasakan udara sejuk sebagai hadiah kehidupan yang cuma-cuma. Dan saat kita menghembuskannya perlahan, lepaskanlah amarah, kekecewaan, dan rasa kepemilikan mutlak atas apa pun. Saksikanlah bagaimana alam mengajarkan kita cara mencintai tanpa harus menguasai.
Rebahkan hatimu malam ini di atas sajadah kedamaian. Biarkan jiwamu melarut dalam simfoni sunyi dan zikir alam yang syahdu. Jadilah seperti teratai: akarnya tertanam di dalam lumpur dunia yang diprihatinkan, namun bunganya tetap mekar indah, bersih, dan wangi di atas permukaan air. Selamat merayakan Idul Adha, selamat menemukan kembali kemanusiaan kita yang merdeka menuju pelukan kasih sayang-Nya yang tanpa tepi.
*DPB Advokat Jember


