• Jelajahi

    Copyright © WARTA UPDATE
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    ​Menari dalam Ketidakjelasan: Rahasia Jiwa yang Tak Bertepi

    Warta Lintas Media
    Minggu, 22 Maret 2026, Maret 22, 2026 WIB Last Updated 2026-03-22T11:12:46Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini


     ​Menari dalam Ketidakjelasan: Rahasia Jiwa yang Tak Bertepi

    Oleh : DODIK PUJI BASUKI - ADVOKAT JEMBER

    ​Ada sebuah kelucuan yang agung saat manusia mencoba memahat takdirnya dengan jemari yang bahkan tak kuasa menahan kantuk. Kita sering merasa menjadi sutradara tunggal atas hari esok, menyusun rencana-rencana kaku seolah dunia adalah mesin yang tunduk pada skema pikiran kita.

     Padahal, jika kita bersedia menunduk sedikit lebih dalam ke dalam palung batin, kita akan menemukan sebuah kejujuran yang membebaskan: bahwa kita adalah makhluk yang benar-benar "tidak jelas".

    ​Ketidakjelasan ini bukanlah sebuah cacat, melainkan sebuah tarian. Seperti debu yang menari di bawah cahaya matahari, kita bergerak tanpa tahu dari mana angin berasal dan ke mana ia akan membawa kita.

     Seorang bijak pernah berbisik bahwa manusia hanyalah "buluh yang berpikir"—begitu rapuh hingga embusan angin kecil pun bisa mematahkannya, namun begitu mulia karena ia sadar akan kerapuhannya.

     Kesadaran akan ketidaktahuan inilah yang sebenarnya merupakan puncak dari segala pengetahuan.
    ​Dalam keriuhan dunia yang memuja kepastian, kita sering membangun berhala-berhala baru bernama status, jabatan, dan aturan yang mati. Kita mengejar "kepastian" dengan begitu kaku, hingga sering kali lupa bahwa aturan itu sendiri diciptakan untuk melayani denyut nadi manusia yang dinamis, bukan sebaliknya.

     Jika kita memaksakan kebenaran yang beku pada jiwa yang cair, yang lahir hanyalah keadilan yang kering dan hampa. Sejatinya, keadilan yang paling tinggi adalah yang mampu merangkul sisi "tidak jelas" dari setiap insan—sebuah ruang di mana pengampunan dan rahmat lebih didahulukan daripada penghakiman yang tergesa-gesa.

    ​Lihatlah bagaimana semesta bekerja. Malam tak pernah bertanya mengapa ia harus menjadi gelap, dan fajar tak pernah ragu untuk menyapa. Hanya manusia yang sibuk melabeli dirinya dengan kepastian-kepastian semu. Kita merasa menjadi "seseorang" karena gelar atau harta, padahal itu semua hanyalah jubah pinjaman yang suatu saat akan ditanggalkan oleh Sang Pemilik Waktu. Ketika kita berani mengakui bahwa kita "tidak jelas", saat itulah kita berhenti menjadi polisi bagi nasib orang lain.

     Kita berhenti menghakimi hitam dan putihnya perjalanan sesama, karena kita sadar bahwa titik akhir dari setiap nafas masih menjadi rahasia yang teramat gaib.
    ​Dunia ini adalah sebuah pembongkaran yang tak pernah usai. Setiap rencana yang gagal dan setiap doa yang belum terjawab adalah cara Semesta untuk meruntuhkan kesombongan kita. Ia sedang mengajari kita untuk tidak menuhankan rencana sendiri. 

    Hidup akan terasa jauh lebih ringan saat kita berhenti mencoba menjadi "pengatur" dan mulai belajar menjadi "saksi" yang penuh syukur atas skenario yang maha misterius.
    ​Maka, biarlah kita menjadi tidak jelas dalam pandangan manusia, asalkan kita jernih dalam berserah diri. Dalam ketidakjelasan itulah, ruang rahmat terbuka lebar.

     Dalam ketidakberdayaan itulah, kekuatan sejati ditemukan. Sebab, hanya mereka yang berani mengakui dirinya bukan siapa-siapa, yang akhirnya akan menemukan siapa sebenarnya Sang Maha Jelas yang selama ini bersemayam di balik setiap detak jantung yang tak pernah kita pesan sebelumnya.

    Komentar

    Tampilkan

    Terkini