masukkan script iklan disini
Seni Menjadi Tiada di Tengah Dunia yang Riuh
Pemahat makna: DODIK PUJI BASUKI, SH.,MH - ADVOKAT JEMBER
Dunia hari ini adalah sebuah panggung sandiwara besar yang menuntut setiap orang untuk mengenakan topeng paling berkilau. Di bawah lampu sorot media sosial dan ekspektasi publik, kita sering kali terjebak dalam obsesi untuk "terlihat hebat". Kita mengejar validasi, mengumpulkan pujian, dan membangun menara ego yang megah, namun sering kali mendapati fondasinya keropos. Di titik inilah, nasihat "hiduplah dengan tulus" bukan sekadar kalimat puitis, melainkan sebuah oase eksistensial.
Ketulusan adalah bentuk keberanian tertinggi. Ia adalah keberanian untuk menjadi "tiada" agar Sang Maha Ada bisa bekerja melalui diri kita. Dalam tradisi sufistik, ini adalah gerbang menuju Ikhlas—sebuah kondisi di mana tangan kanan memberi, namun tangan kiri tak mengetahui. Ketulusan menuntut kita untuk meruntuhkan berhala-berhala kecil dalam hati, yaitu keinginan untuk diakui, dipuja, dan dianggap penting oleh sesama manusia.
Menelusuri Jejak Para Arsitek Jiwa
Jika kita merujuk pada pemikiran Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin, ketulusan atau keikhlasan adalah memurnikan perbuatan dari segala campuran kepentingan duniawi. Beliau mengibaratkan orang yang beramal karena ingin dipuji seperti seseorang yang mengisi tasnya dengan batu; terasa berat dipikul, namun tak berguna untuk membeli makanan di pasar akhirat. Kejujuran pada diri sendiri adalah langkah awal menuju kebahagiaan yang substansial, bukan kebahagiaan kosmetik yang luntur saat pujian berganti makian.
Selaras dengan itu, sang penyair mistik Jalaluddin Rumi sering kali menekankan pentingnya menembus kulit luar untuk menemukan inti. Rumi berkata, "Engkau adalah samudera dalam setetes air." Namun, samudera itu sering kali tertutup oleh sampah-sampah kesombongan dan keinginan untuk pamer. Menjadi "tempat paling aman bagi diri sendiri" berarti kembali ke dalam batin, ke ruang sunyi di mana hanya ada hamba dan Penciptanya. Di sana, tidak ada juri, tidak ada penonton, hanya ada ketentraman yang melampaui kata-kata.
Integritas di Tengah Badai Dunia
Dalam konteks yang lebih kontemporer, keadilan dan kejujuran sering kali dibenturkan dengan kepentingan praktis. Tokoh hukum progresif seperti Satjipto Rahardjo pernah mengingatkan bahwa hukum bukan sekadar teks yang kaku, melainkan tentang manusia dan nurani. Hidup dengan tulus dalam profesi apa pun—terutama yang bersentuhan dengan keadilan—berarti melakukan apa yang benar karena itu memang benar (the right thing to do), bukan karena takut pada sanksi atau haus akan reputasi.
Inilah yang disebut sebagai integritas yang berakar pada sufisme praktis. Seseorang yang tulus tidak akan terombang-ambing oleh pasang surutnya opini publik. Ia memiliki "jangkar" yang kuat di dasar samudera jiwanya. Ia merawat diri sendiri bukan karena narsisme, melainkan sebagai bentuk syukur atas amanah kehidupan yang diberikan Tuhan. Menjadi tempat yang aman bagi diri sendiri adalah bentuk rekonsiliasi batin: menerima segala kekurangan tanpa membenci, dan mengakui kelebihan tanpa tinggi hati.
Menemukan Kebahagiaan dalam "Ketiadaan"
Kebahagiaan yang dijanjikan oleh ketulusan bukanlah kebahagiaan yang meledak-ledak, melainkan ketenangan yang dalam dan stabil. Ia adalah Sakinah. Ketika kita berhenti mencoba mengesankan orang lain, beban di pundak kita seketika luruh. Kita tidak lagi menjadi budak dari persepsi orang lain. Kita menjadi "arsitek makna" bagi kehidupan kita sendiri, membangun bangunan jiwa dengan material kejujuran dan semen kesabaran.
Seperti yang sering disiratkan dalam filsafat Manunggaling Kawula Gusti yang dipahami secara moderat, harmoni tercipta saat kehendak pribadi selaras dengan kehendak Ilahi. Saat kita tulus, kita tidak lagi bertarung melawan takdir, melainkan mengalir bersamanya. Kita melakukan peran kita di dunia dengan sebaik-baiknya—sebagai profesional, sebagai orang tua, sebagai warga negara—namun hati kita tetap tertambat pada Yang Satu.
Menjadi Penempa Nurani
Menghargai diri sendiri adalah


