masukkan script iklan disini
Epilog di Serambi Jember: Ketika Perpisahan Adalah Jalan Pulang
Pemahat Makna : DODIK PUJI BASUKI, SH.,MH
Di bawah langit Jember yang terkadang murung oleh sisa hujan, deretan kursi hijau di ruang tunggu pengadilan itu tampak seperti dermaga bagi kapal-kapal yang kehilangan arah. Orang-orang duduk bersisian dalam diam, menggenggam nomor antrean seolah sedang memegang tiket menuju masa depan yang belum terdefinisi. Ada keheningan yang berat di sana, sebuah sunyi yang tidak disebabkan oleh ketiadaan suara, melainkan oleh riuhnya percakapan di dalam batin masing-masing.
Pertanyaan mengenai mengapa sebuah ikatan yang dulu dirayakan dengan doa dan tawa harus berakhir di meja hijau adalah pertanyaan abadi yang tak pernah memiliki jawaban tunggal. Namun, jika kita menyelami lebih dalam ke relung jiwa, kita akan menemukan bahwa perpisahan sering kali bukanlah sebuah akhir yang tragis, melainkan sebuah proses penyucian diri dan pencarian kembali jati diri yang sempat hilang dalam badai ego.
Seorang bijak pernah berbisik bahwa luka adalah tempat di mana cahaya mulai masuk ke dalam diri. Sering kali, manusia terlalu erat menggenggam sesuatu yang sebenarnya sudah hancur, hanya karena takut akan ruang kosong. Padahal, hanya dalam kekosongan itulah, keindahan baru bisa lahir. Perpisahan, dalam titik ini, adalah cara semesta memaksa kita untuk melepaskan beban yang tak lagi mampu dipikul oleh pundak yang rapuh. Kita sering mengira bahwa kita sedang mempertahankan rumah tangga, padahal yang sebenarnya kita lakukan adalah mempertahankan luka agar tetap basah.
Dalam perjalanan mencari keadilan di serambi hukum, kita diingatkan bahwa hubungan manusia adalah tentang keseimbangan antara memberi dan menerima. Jika salah satu pihak merasa menjadi tawanan dalam rumahnya sendiri, maka hakikat kemanusiaan telah tercerabut. Sebuah pepatah lama mengatakan bahwa jika engkau tidak bisa menjadi air yang menyejukkan bagi pasanganmu, setidaknya janganlah menjadi api yang menghanguskannya. Kehormatan seseorang tidak ditentukan dari seberapa lama ia mampu bertahan dalam penderitaan, melainkan dari seberapa berani ia mengambil sikap untuk menjaga martabat dirinya dan orang lain.
Ada kalanya, dua jiwa yang baik bertemu namun gagal untuk bersatu dalam harmoni. Hal ini bukan karena salah satu dari mereka buruk, melainkan karena frekuensi jiwa yang telah bergeser. Ibarat dua nada indah yang dimainkan dalam kunci yang berbeda, ia tidak akan menghasilkan melodi, melainkan kebisingan. Maka, memisahkan dua nada tersebut adalah tindakan penuh kasih agar masing-masing bisa menemukan simfoni yang baru di tempat yang berbeda.
Dalam tatanan sosial dan spiritual, perpisahan memang merupakan pintu darurat yang paling dihindari. Namun, ia tetaplah sebuah pintu. Ia disediakan bagi mereka yang telah menempuh segala jalan buntu, bagi mereka yang telah mencoba segala jenis obat namun lukanya justru semakin menganga. Bukankah lebih baik berjalan sendiri dengan hati yang damai daripada berjalan berdua dalam bara api yang tak kunjung padam? Kesucian sebuah komitmen tidak boleh dijadikan alasan untuk melegalkan kezaliman batin.
Di ruang tunggu ini, kita juga belajar tentang kerendahan hati. Melihat sesama manusia yang mengantre, kita menyadari bahwa setiap orang membawa bebannya masing-masing. Ada seorang ibu yang menatap kosong ke lantai, ada seorang ayah yang berkali-kali menyeka keringat di dahi. Mereka semua sedang berjuang untuk satu hal: ketenangan. Hukum yang tegak di gedung ini bukan sekadar tentang siapa yang menang atau kalah secara formalitas, melainkan tentang bagaimana setiap individu mendapatkan kembali haknya untuk bernapas lega.
Bagi mereka yang sedang menunggu nomor antreannya dipanggil, ingatlah bahwa setiap perjumpaan ada masanya, dan setiap perpisahan ada maknanya. Jangan biarkan kebencian mengaburkan kenangan manis yang pernah ada. Lepaskanlah dengan cara yang paling santun, sebagaimana dulu kalian menyambutnya dengan cara yang paling mulia. Sebab, pada akhirnya, kita semua adalah musafir yang sedang dalam perjalanan pulang menuju diri kita yang sejati.
Setelah ketukan palu hakim terdengar nanti, koridor-koridor panjang ini mungkin akan terasa lebih ringan. Seseorang akan keluar dari pintu besar itu dengan langkah yang berbeda—mungkin sedikit gontai karena sisa kesedihan, namun matanya akan menatap ufuk dengan harapan yang baru. Perpisahan adalah cara Tuhan mengatakan bahwa bab ini telah usai, dan ada lembaran putih bersih yang sudah menunggu untuk ditulisi dengan tinta yang lebih cerah.
Jadilah seperti mentari yang tetap bersinar meski harus terbenam di ufuk barat, karena ia tahu bahwa esok pagi ia akan terbit lagi dengan cahaya yang tak pernah berkurang. Di balik deretan kursi hijau Jember hari ini, tersimpan ribuan cerita tentang keberanian untuk jujur pada hati nurani. Bahwa hidup terlalu berharga untuk dihabiskan dalam kepura-puraan, dan kedamaian adalah harta yang paling layak untuk diperjuangkan, meski harganya adalah sebuah perpisahan.
*Manager Partners DPB ADVOKAT JEMBER


