• Jelajahi

    Copyright © WARTA UPDATE
    Best Viral Premium Blogger Templates

    Iklan

    SINGGASANA DI ATAS DEBU

    Warta Lintas Media
    Sabtu, 09 Mei 2026, Mei 09, 2026 WIB Last Updated 2026-05-10T01:26:53Z
    masukkan script iklan disini
    masukkan script iklan disini


     SINGGASANA DI ATAS DEBU


    Pemahat Makna :DODIK PUJI BASUKI, SH.,MH - ADVOKAT JEMBER

    ​Di panggung sandiwara yang kita sebut dunia, sering kali mata kita dipaksa menyaksikan tarian bayang-bayang yang menyakitkan. Kita melihat ketidakadilan bersolek dengan pakaian kebenaran, dan ketidakpastian merayap di sela-sela janji yang megah. Di lorong-lorong kekuasaan, gema orasi terdengar nyaring, namun sering kali ia hanyalah angin kosong yang meniupkan debu ke mata orang-orang kecil. Nafsu untuk berkuasa dan memiliki, jika tidak dijinakkan, akan tumbuh menjadi naga yang melahap nurani pelakunya sendiri sebelum ia sempat melahap orang lain.

    ​Namun, bagi jiwa yang telah membasuh matanya dengan air mata kerinduan akan hakikat, segala hiruk-pikuk ini adalah ujian bagi keteguhan cinta. Mari kita menunduk sejenak, masuk ke dalam relung qalbu yang paling sunyi, untuk memahami mengapa dunia tampak begitu bising dan penuh kecurangan.

    ​Cermin yang Retak dan Haus yang Tak Bertepi
    ​Penderitaan kolektif sebuah zaman—seperti merajalelanya keserakahan dan pengkhianatan amanah—sejatinya adalah cerminan dari batin manusia yang kehilangan arah pulang. Kekuasaan yang dikejar demi kepentingan pribadi atau kelompok hanyalah upaya sia-sia untuk mengisi lubang tak berdasar di dalam jiwa. Mereka yang sibuk mengumpulkan emas di atas penderitaan sesama ibarat orang yang meminum air laut; semakin diminum, semakin haus, hingga kerongkongan mereka terbakar oleh rasa haus yang tak pernah tuntas.
    ​Setiap bentuk ketidakadilan adalah asap yang menandakan adanya api keakuan (ego) yang berkobar di dalam dada. Ketika seseorang merasa bahwa dirinya, kelompoknya, atau kekuasaannya adalah pusat semesta, ia sesungguhnya sedang membangun penjara yang sangat sempit bagi ruhnya sendiri. Ia mengira sedang menaklukkan dunia, padahal ia sedang diperbudak oleh bayangannya yang kerdil.

    ​Cahaya dalam Kegelapan Struktur
    ​Bagaimana mungkin ketidakbenaran tetap marak sementara lidah-lidah begitu fasih bicara tentang kebaikan? Itu karena kata-kata sering kali hanya singgah di bibir, tak pernah benar-benar menetes ke dalam sumur hati. Orasi yang hanya bermakna untuk kekuasaan adalah tubuh tanpa nyawa; ia tampak bergerak, namun tidak memiliki kehangatan hidup. Ia tidak mampu menyembuhkan luka, ia hanya mampu menutupi borok dengan kain sutra.
    ​Namun, wahai jiwa yang terluka oleh keadaan, janganlah engkau membalas kegelapan dengan kegelapan yang sama. Jika dunia di sekitarmu penuh dengan ketidakpastian dan tipu daya, jadilah engkau lentera bagi dirimu sendiri. Jangan biarkan racun yang ditebarkan oleh keserakahan masuk ke dalam aliran darahmu. Ingatlah bahwa kemenangan lahiriah yang didapat dengan merampas hak sesama adalah kekalahan batin yang paling memilukan. Sebuah singgasana yang dibangun di atas air mata orang terzalimi adalah singgasana yang berdiri di atas pasir hisap; ia akan tenggelam tepat saat sang raja merasa paling aman.

    ​ Mengolah Luka Menjadi Hikmah
    ​Ketidakadilan sering kali menjadi guru yang paling kejam sekaligus paling jujur. Ia memaksa kita untuk mencari keadilan yang lebih tinggi—keadilan yang tidak bisa dibeli dengan kepingan perak atau pengaruh politik. Kita diajak untuk menata kembali "kerajaan" di dalam diri kita. Sebelum kita menuntut dunia untuk adil, sudahkah kita adil terhadap diri sendiri? Sudahkah kita menempatkan akal di atas nafsu, dan kasih sayang di atas amarah?
    ​Seorang pengelana spiritual yang bijak pernah mengisyaratkan bahwa setiap penderitaan yang kita saksikan adalah undangan untuk kembali kepada "Sang Pemilik Kepastian". Di tengah badai korupsi dan egoisme yang seolah tak berujung, ada sebuah ruang rahasia di dalam batin yang tetap suci, yang tak tersentuh oleh kotoran duniawi. Di sanalah tempat kita mengisi kembali bejana kesabaran. Kesabaran di sini bukanlah kelemahan untuk menerima kezaliman, melainkan keteguhan untuk tetap berdiri di jalan kebenaran meskipun dunia di sekeliling kita memilih untuk berbelok.

    ​Menari di Tengah Badai
    ​Biarlah mereka yang mengejar bayang-bayang terus berlari hingga kelelahan. Biarlah pidato-pidato kepentingan pribadi menguap menjadi awan hitam yang tak mendatangkan hujan. Bagimu, cukupkanlah dengan menjadi samudera yang luas. Samudera tidak akan menjadi najis hanya karena ada bangkai yang dilemparkan ke dalamnya. Ia tetap biru, tetap dalam, dan tetap setia memeluk garis pantai.
    ​Hadirilah hari ini dengan kesadaran penuh. Jika engkau melihat ketidakbenaran, tegakkanlah kebenaran di dalam perilakumu sendiri. Jika engkau melihat keserakahan, tebarkanlah kedermawanan dalam diammu. Inilah pemberontakan jiwa yang paling elegan: tetap menjadi manusia yang utuh dan penuh cinta di tengah sistem yang mencoba mengubah semua orang menjadi angka dan alat kekuasaan.
    ​Pada akhirnya, sejarah tidak akan mengingat berapa banyak harta yang dikumpulkan oleh seorang penguasa, atau seberapa keras teriakan seorang orator. Sejarah batiniah manusia hanya akan mencatat: siapa yang mampu menjaga hatinya tetap bersih di tengah lumpur, dan siapa yang mampu tetap mengasihi di saat dunia dipenuhi kebencian.
    ​Hiduplah seolah-olah waktu telah berhenti bagimu. Lepaskan beban untuk mengubah apa yang berada di luar kendalimu, dan mulailah membangun keindahan dari dalam. Sebab, ketika tabir dunia ini dibuka, yang tersisa hanyalah pancaran cahaya dari jiwa-jiwa yang tetap tenang meskipun badai ketidakadilan menderu di depan pintu mereka. Pulanglah ke dalam rida-Nya, di mana segala pertanyaan akan menemukan jawaban, dan segala luka akan menemukan kesembuhan.

    *Manager Partners DPB ADVOKAT
    Komentar

    Tampilkan

    Terkini